BERDIRI megah di pusat kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, Islamic Center atau Almarkazul Islami Lhokseumawe menghadirkan nuansa Timur Tengah di tanah Aceh yang subur. Berdirinya Islamic Center ini membangkitkan kembali ingatan kita pada sejarah kejayaan Kerajaan Islam Samudera Pasai (Samudera Pase) yang tercatat dalam sejarah sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia.

Tujuan Islamic Centre Kota Lhokseumawe

Mewujudkan Masjid yang makmur dan monumental sebagai sentrum pembinaan umat dan budaya Islam.

Menyelenggarakan kegiatan pengembangan sumberdaya Muslim melalui dakwah, pendidikan dan pelatihan.

Kegiatan pengkajian bagi pengembangan pemikiran dan wawasan Islami.

Menyelenggarakan kegiatan pengembangan seni budaya Islam.

Menyelenggarakan kegiatan pengembangan masyarakat dan layanan sosial.

Menyelenggarakan kegiatan pengembangan data dan Informasi Islam.

Menyelenggarakan kegiatan usaha dan pengembangan bisnis Islami.

Mewujudkan tataruang lingkungan Islamic Center kota Lhokseumawe yang bernuansa Islami, indah, nyaman dan monumental.

Fungsi Islamic Centre Kota Lhokseumawe

Fungsi Takmir Mesjid ( Kemakmuran Mesjid )

Fungsi Pendidikan dan Latihan

Fungsi Sosial Budaya

Fungsi Informasi dan Komunikasi

Fungsi Pengembangan Bisnis yang Islami

Fungsi Pendukung Lainnya

Islamic Center Lhokseumawe

Islamic Center Lhokseumawe

Fasilitas Islamic Centre Lhokseumawe

(1). Masjid Agung : Bangunan masjid Agung di komplek Islamic Centre Lhokseumawe ini terdiri dari bangunan tiga lantai, dua lantai sebagai area sholat dengan daya tampung ± 6000 jemaah di lantai satu dan ± 3000 jemaah di lantai dua. Ditambah dengan lantai basement. (2). Gedung Perpustakaan, berupa bangunan seluas 3662m2 mampu menampung 250 orang sekaligus, sebagai referensi bagi para peneliti / intelektual dan mahasiswa. (3). Mess / Wisma Tamu : berupa bangunan lantai dua, dengan sepuluh kamar tidur dengan kapasitas 2 orang per kamar untuk menampung tamu tamu dalamkegiatan dakwah. (4). Madrasah Diniyah : dengan dua belas ruang belajar, ditambah dua ruang laboratiorium dan satu ruang pustaka, mampu menampung 368 siswa.

(5). Gerai gerai (kios kios), terdiri dari 20 kios makanan / kantin serta tujuh took souvenir, toko buku, ATK & fotokopi, Boutique, wartel, warnet dan lain lain. (6). Museum : museum ini dibangun sebagai wadah tempat penyimpanan benda benda budaya yang bernilai sejarah dan seni, terdiri dari ruang pamer tetap ruang pamer temporer dengan total luas keseluruhan mencapai 1.112 m2(7). Gedung Serbaguna, yang dapat dipergunakan sebagai ruang pertunjukan, kesenian dan olahraga dengan daya tampung mencapai 2.200 orang. dan (8). Rumah Imam besar, untuk kepentingan kesejahteraan imam besar agar tugas tugas dapat berjalan lancar.

Latar Belakang dan Tujuan Pembangunan  Islamic Center Kota Lhokseumawe

Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam atau yang lebih di kenal dengan sebutan Islamic Center (al-Markazul Islami) yang berdiri tepat di pusat Kota Lhokseumawe, merupakan sebuah Ikon baru wilayah  Samudra Pase sebagai pusat Konsentrasi Baru Untuk mewujudkan kembali kejayaan dan Peradaban Islam Yang terbenam di wilayah Negara Islam Pertama di Asia Tenggara.

Sejarah kebesaran Kesultanan Samudera Pasai sampai ke kesultanan Aceh Darussalam hingga niat untuk mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat peradaban Islam menjadi latar belakang utama dibangunnya Islamic Center Lhokseumawe ini. menilik sejarah Rosulullah S.A.W ketika beliau hijrah ke Madinah pun, hal pertama yang beliau bangunan adalah Masjid. Semua itu memberikan pelajaran kepada kita betapa pentingnya peran masjid bagi kehidupan muslim.

Sejarah Singkat Kerajaan Islam Samudra Pasai

Wilayah Pase’ merupakan sebuah daerah bekas kerajaan Islam samudra Pasai atau Kesultanan Samudera Pasai, juga dikenal dengan Samudera Pasai, atau Samudera Darussalam, kerajaan Islam di pesisir pantai utara Sumatera, kurang lebih di sekitar Kota Lhokseumawe, sekarang ini. Didirikan oleh Meurah Silu, bergelar Malik al-Saleh, sekitar tahun 1267 dan Sultan Malik as-Saleh menjadi Raja pertamanya, Sultan Malik as-Saleh wafat pada tahun 696H/1297M dan kekuasaannya diteruskan oleh Sultan Malik at-Thahir putra tertua beliau yang sangat kental dengan nilai-nilai peradaban  Islam.

Samudra Pasai juga memiliki relasi cukup luas dengan kerajaan luar. Pada masa jayanya, Pesisir samudera Pasai merupakan pusat perniagaan penting di kawasan itu, dikunjungi oleh para saudagar dari berbagai negeri, seperti Cina, India, Siam (Thailand), Arab dan Persia. Komoditas utama adalah lada. Sebagai bandar perdagangan yang besar, Samudera Pasai mengeluarkan mata uang emas yang disebut dirham. Uang ini digunakan secara resmi di kerajaan tersebut. Di samping sebagai pusat perdagangan, Samudera Pasai juga merupakan pusat perkembangan agama Islam serta berbagai disiplin ilmu yang tidak sedikit pada masanya dimana masjid sebagai sentrumnya.

Eksistensi peradaban Islam di kesultanan Samudera Pasai dicatat dalm jurnal perjalanan Marco Polo yang telah singgah di pulau Sumatra Tahun 1292, lalu dilanjutkan dengan catatan dari Abu Abdullah ibnu Batuthah (1304–1368), seorang musafir Maroko yang singgah di Samudera tahun 1345 di dalam kitabnya Rihlah ilal-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) juga menyebutkan bahwa Sultan Malik az-Zahir di negeri Samatrah yang menyambutnya dengan penuh keramahan dan penduduk Muslim Samatrah (Samudera) yang menganut Mazhab as-Syafi’I serta Pemimpinnya yang sangat Alim dan Shaleh.

Pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Malik al-Dhahir banyak para pedakwah Islam yang dikirim oleh kerajaan untuk menyebarkan Islam keseluruh Melayu dan Nusantara. Sultan Ahmad Syah di Malaka (Tanah Melayu) telah memeluk Islam dan menikahi putri Raja Samudra Pase, dan beliau dikenal dengan sebutan Sultan Iskandar Syah (1324-1444 M), Kerajaan Islam Samudra Pasai Juga mengirimkan Da’i ke Barus di Pantai Barat Pulau Sumatera dan bagian Timur Pulau, Sampai ke penduduk Aru, sehingga Kerajaan Batak di Sumatra Utara Memeluk agama Islam.Tidak hanya kegemilangan itu, kerajaan juga telah melahirkan kehidupan budaya yang menghasilkan karya tulis yang baik. Sekelompok minoritas kreatif berhasil memanfaatkan huruf Arab yang dibawa oleh agama Islam, disebut dengan bahasa Jawi, dan hurufnya disebut Arab Jawi. Huruf ini yang digunakan oleh Syaikh Abdurrauf al-Singkili untuk menuliskan buku-bukunya. juga berkembang ilmu tasawuf. Menunjukkan peran yang telah dimainkan oleh Samudera Pasai dalam posisinya sebagai pusat tamadun Islam di Asia Tenggara dan Dunia Islam.

Pada tahun 1524, Kerajaan Islam Samudera Pasai berada di bawah pengaruh Kesultanan Aceh yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam. Saat itu, Kesultanan Aceh dipimpin oleh Sultan Ali Mughayat Syah. Setelah sekian lama, pada akhirnya kerajaan-kerajaan Islam yang lainnya bersatu menjadi satu pada Kesultanan Aceh Darus Salam, seperti Tamiang dan Lamuri.

Opening Hours

Monday

-

Tuesday

-

Wednesday

-

Thursday

-

Friday

-

Saturday

-

Sunday

-

Address

Our Address:

Simpang Empat, Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, Aceh

GPS:

5.179936, 97.141990

Telephone:

-

Email:

-

Web:

-