Selasa , 23 April 2024

Wajah Madinah yang terlihat di Masjid Raya Baiturrahman

Kemegahan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

Wisata Religi | Aceh.co.id

Nanggroe Aceh Darussalam adalah Provinsi paling barat Indonesia yang terletak di ujung utara Pulau Sumatra. Di pusat Banda Aceh, pusat pemerintahan Adeh, terdapat sebuah masjid megah yang disebut Masjid Raya Baiturrahman.

Ini adalah simbol pariwisata terkenal Banda Aceh.

Bangunan utama masjid, yang memiliki luas 4.000 meter persegi, dapat menampung 13 ribu orang. Pada 26 Desember 2004, sekitar pukul 09.00 WIB, rumah ibadah umat Islam Aceh ini menjadi salah satu tempat warga berlindung ketika gempa berkekuatan 9 skala Richter dan gelombang tsunami setinggi 20 meter menghantam pusat kota.

Ribuan orang selamat karena berlari menuju bagian dalam masjid pada saat itu, tetapi ribuan lainnya meninggal dunia. Halaman depan masjid dipenuhi dengan lumpur dan sampah, termasuk bangkai mobil.

Masyarakat Aceh secara bertahap mulai memahami cerita pilu yang berlangsung hampir 17 tahun itu. Masjid yang terletak di Jl. Muhammad Jam nomor 1, Desa Baru, Kecamatan Baiturrahman, terletak di lahan seluas 3 hektare. Masjid ini dengan cepat menjadi salah satu tempat ibadah terbesar di Sumatra dan kembali menjadi kebanggaan warganya.

Dengan melibatkan PT Waskita Karya, sebuah perusahaan BUMN konstruksi, pemerintah setempat memperbaiki lanskap dan infrastruktur masjid hampir sebelas tahun setelah gempa dan tsunami, tepatnya pada 28 Juli 2015. Sebagai tempat parkir untuk mobil pengunjung dan tamu, bangunan bawah tanah memiliki kapasitas 100 kendaraan roda empat dan sekitar 200 kendaraan roda dua. Lokasinya tepat mengelilingi Tugu Aceh Daerah Modal, sebuah menara setinggi 51 meter yang terletak di sisi timur bangunan utama masjid.

Koridor berkaca terletak di bagian tengah bangunan bawah tanah ini untuk memudahkan pengunjung menuju pelataran masjid. Sebagian besar dindingnya terbuat dari keramik mengkilat yang dihiasi dengan ornamen emas, dan beberapa terbuat dari kaca.

Dekat pintu masuk terdapat loker alas kaki dan penitipan barang. Koridor ini berukuran kira-kira 200 meter dengan lantai keramik putih dan hitam. Tempat berwudhu modern dengan lantai dan tembok yang dihiasi marmer memiliki dua titik. Di ujung koridor terdapat tangga dan eskalator yang membawa kita ke pelataran masjid timur dan selatan.

Selain itu, lantai halaman depan, yang sebelumnya terdiri dari hamparan rumput, dilapisi dengan marmer putih setelah penataan. Di beberapa sisi, terutama di sekitar kolam di tengah halaman, masih ada hamparan rumput hijau.

Tumbuhan berbunga cantik dengan berbagai warna merah, putih, dan kuning juga ditanam di antara rumput hijau itu. Semula, kolam ini terlihat kaku karena pagar besi di sekelilingnya.

Namun, saat renovasi dilakukan, pagar besi dibongkar dan fungsinya sebagai benteng kolam diambil alih oleh rumput hijau dan berbagai tanaman cantik. Ini meningkatkan suasana kolam. Air mancur yang menari di dasar kolam dengan sorot lampu warna-warni menambah keindahan kolam.

Selain itu, dua belas payung raksasa terpasang di halaman; enam dipasang di sisi selatan dan enam lainnya di sisi utara. Pemasangan dimulai pada November 2016. Payung-payung ini dipasang dengan jarak antar tiang kira-kira 10 meter. Dapat dibuka-tutup seperti payung.

Satu-satunya perbedaan adalah bahwa payung-payung ini digerakkan secara elektrik dalam waktu tiga menit karena postur besarnya.

Selama proses buka-tutup payung, tidak ada suara yang terdengar dari mesin elektriknya. Arsitek asal Jerman Mahmoud Bodo Rasch adalah pencipta teknologi payung elektrik ini. Payung-payung ini terbuat dari kain terpal berserat sintetis tertentu. Kain ini disebut PTFE. Kain jenis ini tahan terhadap sinar ultraviolet, antiapi, dan elastis. Mereka juga menyerap cahaya matahari, membuat sekitarnya lebih teduh.

Masjid sekarang memiliki kain putih dengan motif emas di tepi dan bagian bawahnya. Bentengnya mencapai lebar 14 meter, terutama saat dikembangkan. Saat dibentangkan secara bersamaan, kanopi raksasa akan muncul seolah saling bersambung, menciptakan siluet lantai yang unik. Cukup untuk membuat area di sekitarnya teduh ketika mentari sangat terik.

Ini membuat banyak pengunjung memilih duduk berteduh di bawah payung raksasa yang dibuat oleh keahlian Rasch. Banyak dari mereka mengabadikan foto saat payung terbentang 20 meter dari lantai.

Payung ditopang oleh tonggak baja berkelir putih berdiameter dua meter dan tinggi lima belas meter. Di atasnya, rangka penyangga kain-kain payung dengan ukuran besi yang lebih kecil digunakan untuk membuatnya kokoh.

Tonggak dan penyangga kain diberi ukiran warna emas di antaranya, dan ada ornamen yang menghidupkan lampu di keempat sisi tonggak. Cahayanya berwarna-warni, kadang-kadang ungu, hijau, atau kuning, dan sangat terang, cukup untuk menyinari area sekitarnya. Bentuk payung menyerupai menara masjid ketika dikuncupkan.

Payung raksasa ini telah dipasang di tempat lain di Indonesia sebelum Masjid Raya. Karena Masjid Agung Jawa Tengah dan Masjid Muammar Qadaffy di Sentul, Jawa Barat, juga telah memasangnya sebelumnya. Dengan jumlah yang jauh lebih banyak, mencapai 250 buah, payung elektrik Rasch ini pertama kali dipasang di Masjid Nabawi di Kota Madinah, Arab Saudi.

Historis Masjid Raya

Pada tahun 1022 Hijriah atau 1612 Masehi, Masjid Raya Baiturrahman didirikan saat Sultan Iskandar Muda memerintah Kesultanan Aceh Darussalam. Masjid ini bukan hanya pusat pendidikan Islam tetapi juga simbol agama, budaya, jiwa, ketangguhan, dan perjuangan orang Aceh.

Namun, menurut buku 2007 Eric Tagliacozzo, seorang peneliti sejarah Asia Tenggara di Cornell University, Secret Trades, Porous Borders: Smuggling and States Along a Southeast Asian Frontier, 1865–1915, masjid ini pernah terbakar habis. Ini semua terjadi pada 10 April 1873, ketika pasukan Hindia Belanda dipimpin oleh Johan Harmen Rudolf Kohler menyerang daratan Aceh. Rakyat marah karena pembakaran masjid itu, yang memicu perang.

Pada 9 Oktober 1879, Gubernur Jenderal Van Lansnerge berusaha membangun kembali masjid setelah empat tahun. Desain yang ditugaskan kepada arsitek Gerrit Bruins akhirnya dibuat oleh LP Luijks. Desain ini mengadopsi gaya arsitektur Mughal yang telah berkembang di Asia Selatan dan Asia Tengah, dengan gerbang berkubah besar, menara sudut ramping, kubah bulat besar yang menyerupai bawang, dan hiasan halus. India memiliki Taj Mahal yang dibangun dengan gaya arsitektur seperti ini.

Muhammad Daud Syah, sultan terakhir Aceh, menyelesaikan pembangunan masjid ini pada 27 Desember 1881. Saat itu, masjid hanya memiliki sebuah kubah dan satu menara. Pada tahun 1935, 1958, dan 1982, kubah dan menara ditambah lagi, menjadikan masjid ini memiliki tujuh kubah dan empat menara.

Menara kelima, Tugu Aceh Daerah Modal, dibangun pada tahun 1991 ketika Aceh dipimpin oleh Gubernur Ibrahim Hasan. Presiden RI Pertama Sukarno memanggil Aceh “daerah modal” untuk mengingat peran penting yang dimainkan oleh penduduk Serambi Mekah selama masa kemerdekaan. Tugu tujuh lantai ini menghadap ke pusat kota dari ketinggian.

Check Also

Heboh curhatan Turis Kanada: Wisata Pulau Togean Sulawesi Bak Neraka!

Ketika mereka berlibur di Kepulauan Togean, Tojo Una-Una, Sulteng, seorang turis Kanada mengeluh. Ia sampai …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *